Sabtu, 13 Desember 2008

Melalui Latihan Dasar Puisi

Dalam membacakan puisi, dikenal dengan tiga gaya, yaitu gaya potery reading, gaya deklamatoris, dan gaya teaterikal. Teknik pembelajaran membacakan puisi yang akan diuraikan adalah teknik membacakan puisi dengan gaya poetry reading. Teknik pembelajaran membacakan puisi ini dilakukan secara berkesinambungan. Teknik ini dilakukan melalui dua pendekatan, yaitu pendekatan struktural dan metafisika. Keduanya merupakan perpaduan yang diperlukan dalam membacakan puisi. Kedua pendekatan ini dipalikasikan dalam bentuk latihan-latihan dasar yang akrab dalam kehidupan berteater.

Adapun teknik pembelajaran membacakan puisi terpapar sebagai berikut.
I. Pendekatan Struktual
Sebelum melakukan pendekatan ini, siswa diharuskan untuk mencari puisi yang akan dibacakan. Siswa boleh memilih satu puisi dari berbagai macam sumber.
a. Membaca berulang-ulang
Tahap ini merupakan tahap mengenali bentuk puisi. Dengan membaca berulang-ulang, akan diketahui bentuk puisi berikut makna yang hendak disampaikan penyair. Tipografi puisi dapat digali hingga menemukan maksud penyair.

b. Memberinya jeda
Setelah memahami bentuknya, berilah tanda jeda agar memperoleh rima yang enak didengar saat membacakan puisi nanti. Tanda jeda (/) diletakkan di antara kata yang hendak dipisah pelafalannya. Harapanya, dengan pemberian tanda jeda, dapat mempermudah untuk menyampaikan isi dari puisi kepada pendengar (penonton). Dengan pemenggalan tanda yang tepat, setidaknya makna yang disampaikan lebih baik.

c. Mencari alur
Setiap karya sastra yang baik, tentu memiliki alur cerita yang ditandai dengan puncak alur sebagai konflik. Dalam puisi, penulis melihat adanya puncak konflik itu. Dengan menemukan alur, puisi dapat dibacakan secara tepat. Pembaca puisi harus bisa membedakan suara ketika sedang membacakan bait-bait yang merupakan penciptaan konflik, konflik, hingga penyelesaian konflik. Dengan demikian, siswa akan mengetahui bait-bait mana yang harus dibcakan secara maksimal.

d. Memahami makna secara insentif
Setelah melakukan tahapan di atas, tahapan terakhir adalah tahapan yang memerlukan waktu cukup lama untuk menafsirkan kembali makna puisi. Penafsiran ini membutuhkan waktu yang sangat lama. Proses perenungan banyak terjadi di sini. Tidak cukup 10-20 menit untuk mencari “nyawa” dari puisi yang dipilih, melainkan bisa memakan waktu 2-3 hari. Pada awal tahap ini harus dilakukan secara serius, kemudian boleh dilakukan di sela-sela aktivitas sehari-hari, misal sambil makan.

II. Pendekatan Latihan Dasar Teater
a.Pemanasan
Latihan pemahasan diperlukan untuk membuat kondisi tubuh yang lelah menjadi bugar. Senam pemanasan ini bisa dimulai dengan
1. gerakan kepala; menoleh kanan kiri, atas bawah, dan berputa
2. senam mimik: ekspresi menangis, tertawa, melongo, sinis, kejam, dll,
3. gerakan tangan: membentuk huruf S, lengan dibuka dan ditutup, dll
4. gerakan kaki; diangkat ke depan, ke kanan, ke kiri, dll. bergantian dari kaki kanan dan kiri
5. ditutup dengan berlari-lari kecil.
Senam ini dapat dikreatifitaskan sesuai dengan kompetensi yang dimiliki fasilitator, dalam hal ini guru.

a.Olah napas
Dalam pernapasan, dikenal pernapasan dada dan perut. Kedua jenis pernapasan ini harus dipadukan untuk memperoleh kualitas vokal dan penghayatan yang memerlukan perpaduan lagi dengan detak jantung dan imajinasi.
1. Siswa diminta untuk mengambil napas kecil, kemudian mengeluarkannya
2. Setelah dirasa cukup, siswa diminta untuk menarik napas dan menyimpannya dalam dada, kemudian mengeluarkannya dengan pelan-pelan
3. Siswa diminta mengambil napas dengan 3hitungan, diminta menahannya dengan 3 hitungan, dan mengeluarkannya secara perlahan-lahan dengan hitungan 3 juga (Melakukan pernapasan segitiga)
4. Latihan berikutnya ditingkatkan menjadi 5 hitungan, 7 hitungan, 9 hitungan, dan semampunya.
5. Setelah dirasa cukup, siswa diminta melakukan proses nomor 2-4 dengan menyimpannya di perut.
6. Siswa diminta mengambil napas terengah-engah dengan berbagai posisi, misal dengan posisi terlentang atau berdiri
7. (langsung dilanjutkan olah vokal)
a.Olah vokal
1. Kemudian siswa diminta berbisik dengan mengucapakan beberapa larik puisi.
2. Setelah itu, diminta berteriak hingga artikulasi dan intonasinya tepat dan terdengar dalam jarak sesuai dengan ukuran proporsional. Misal aula, suara siswa harus terdengar hingga di sust belakang aula.
3. Siswa kemudian diminta untuk menilai satuan suara (desible) milik temannya ketika berbisik maupun berteriak dengan dua pilihan, yaitu sama atau berbeda desible-nya. Setiap siswa berpasangan dan melakukannya secara bergiliran
4. Setelah mengetahui kapasitas desible temannya, setiap siswa diwajibkan untuk dapat mengetahui berapa keras, lantang, dan lembut suaranya agar terdengar sesuai dengan kapasitas proporsi ruang (jika dilakukan dalam ruangan)
5. Siswa diminta untuk mengucapkan beberapa larik dalam bait-bait puisi di dalam ruang dan di luar ruang.

Latihan olah napas dapat melibatkan kelompok silat olah pernapasan. Sedangkan latihan vokal dapat melibatkan kelompok paduan suara yang lebih memahami tentang olah vokal yang baik. Paling tidak, teknik dan materinya tidak menyimpang jauh dan usefull.

a.Konsentrasi
Pada tahap ini, konsentrasi merupakan salah satu latihan dasar dalam membacakan puisi. Hal ini akan sangat bermanfaat ketika performansi nantinya. Membacakan puisi bukan membaca puisi untuk dirinya sendiri, melainkan untuk orang lain. Jadi proses membacakan puisi dilakukan di hadapan orang lain. Untuk itulah, dibutuhkan konsentrasi yang tinggi untuk mengatasi segala rangsangan yang bisa mengganggu proses pembacaan puisi.
Adapun langkah-langkah untuk melakukan latihan dasar konsentrasi adalah
1. siswa diminta untuk menanggalakn semua aksesori yang mengikat di tubuh, seperti arloji, gelang, dll. Upayakan mereka juga mengendurkan ikat pinggang. Jika mereka memakai sepatu, sebaiknya dilepas berikut kaos kakinya.
2. semua siswa diminta untuk mencari posisi yang sangat rileks. Hal ini dilakukan agar aliran darah yang mengalir dari jantung berjalan sangat lancar dan membuat tubuh bugar. Siswa diperbolehkan untuk duduk hingga merebahkan diri. Namun siswa harus diingatkan agar jangan sampai tertidur karena terbawa oleh hawa. Konsentrasi bukan mengosongkan pikiran, tetapi memusatkan perhatian pada satu titik. Pikiran jangan sampai kosong sebab akan sangat rawan dimasuki oleh “roh ghaib”, terlebih dilakukan di tempat yang rawan.
3. ajaklah siswa untuk memejam mata agar lebih mudah melakukan konsentrasi
4. siswa diajak untuk memusatkan pikiran dengan cara mendengarkan suara-suara yang paling jauh
5. jika dirasa bahwa siswa sudah dapat memusatkan pikiran pada pikiran yang jauh, siswa diajak untuk mencari dan memusatkan pikiran dengan mendengarkan suara-suara yang jauh dengan cara mengidentifikasi bunyi dan mengakrabinya
6. setelah itu, siswa diajak untuk mencari dan memusatkan perhatian pada suara-suara yang dekat dengan mereka. Biarkan mereka mengidentifikasinya dan mengakrabinya
7. setelah dirasa cukup, ajaklah siswa untuk mencari, mendengarkan, dan memusatkan perhatian pada suara yang sangat dekat, yaitu detak jantungnya. Biarkan mereka berkonsentrasi pada detak jantungnya. Ajaklah mereka untuk benar-benar merasakan detak jantungnya mulai dari gejala berdenyut, berdenyut hingga efek yang ditinggalkan setelah denyut itu selesai dan menuju ke denyut selanjutnya. Biarkan mereka mengakrabinya Usahakan agar aliran darah mengalir dengan lancar. Jika ada salah satu bagian tubuh, misalnya siku atau lutut, ditekuk, maka akan menyebabkan aliran darah tidak lancar dan menyebabkan kejang (Jawa: keram)
8. (langsung dilanjutkan latihan imajinasi)

a.Imajinasi (Penghayatan)
1. memberikan kesadaran bahwa denyut jantung sesungguhnya memompa darah ke seluruh tubuh.
2. memberikan kesadaran bahwa dengan mengendalikan detak jantung yang dipadukan dengan napas mampu membawa pada suasana yang diinginkan
3. mengajak siswa berkonsentrasi pada area kepala dengan fokus mata. Bahwa mata yang dimiliki memiliki potensi untuk melirik, melotot, terpejam, dll. Siswa diajak berimajinasi tentang apa yang terjadi di dalam puisi yang telah dipilih. Siswa diminta agar berimajinasi terhadap puisi tersebut. Bagaimana gerakan bola mata yang maksimal dalam berekspresi nanti ketika membaca puisi.
4. setelah dirasa cukup, siswa diajak untuk berkonsentrasi pada mulut. Sama dengan mata, mulut juga memiliki potensi untuk bisa maksimal. Mulut bisa untuk melongo, menguap, tertutup, dll. Siswa diajak berimajinasi tentang apa yang terjadi di dalam puisi yang telah dipilih. Siswa diminta agar berimajinasi terhadap puisi tersebut. Bagaimana gerakan bibir yang maksimal dalam berekspresi nanti ketika membaca puisi. Bibir memiliki potensi yang maksimal jika diolah dengan baik.
5. setelah dirasa cukup, siswa diajak untuk memadukannya dengan gerak wajah (mimik). Siswa diminta berkonsentrasi pada bentuk mimik. Siswa diminta agar berimajinasi terhadap puisi tersebut. Bagaimana bentuk mimik yang maksimal dalam berekspresi nanti ketika membaca puisi. Mimik memiliki potensi yang maksimal jika diolah dengan baik.
6. setelah dirasa cukup, siswa diajak untuk memadukannya dengan gerak kepala. Siswa diminta berkonsentrasi pada gerakan kepala. Siswa diminta agar berimajinasi terhadap puisi tersebut. Bagaimana gerakan kepala yang maksimal dalam berekspresi nanti ketika membaca puisi. Kepala memiliki potensi yang maksimal jika diolah dengan baik.
7. Siswa kembali diminta untuk berkonsentrasi pada bagian tengah dari tubuh, khusnya bagian atas punggung (Jawa: pundak). Bagaimana gerakan punggung yang maksimal dalam berekspresi nanti ketika membaca puisi. Punggung memiliki potensi yang maksimal jika diolah dengan baik.
8. Siswa diajak berkonsentrasi dan berimajinasi pada bagian tangan. Siswa diminta untuk tetap berimajinasi pada puisi yang telah dipilih. Bagaimana gerakan punggung yang maksimal dalam berekspresi nanti ketika membaca puisi. Tangan memiliki potensi yang maksimal jika diolah dengan baik.
9. (langsung dilanjutkan dengan latihan ekpsresi)

a.Ekspresi
1. jika dirasa cukup, siswa diminta untuk membayangkan jika seandainya mereka benar-benar menyaksikan peristiwa tersebut bahkan mengalaminya sendiri
2. upayakan agar mereka bisa “lepas” dalam menghayati. Biarkan mereka menangis bahkan tertawa. Usahakan agar tidak mengeluarkan kata-kata terlebih dulu.
3. biarkan siswa larut dan mengekspresikannya dengan larik-larik dalam puisi yang diingat
4. jika siswa sudah lepas, minta mereka perlahan-lahan mengendalikan ekspresi itu
5. jika siswa sudah bisa mengendalikan, siswa diminta untuk mengambil nafas pelan-pelan kemudian mengeluarkannya. Lakukan secukupnya.
6. jika siswa dalam kondisi yang tenang, siswa diminta untuk menggerakkan jari-jemari tangan dengan pelan-pelan dan merasakannya dari kondisi sebelum digerakkan, bergerak, hingga sudah digerakkan. Siswa diminta untuk merasakan angin yang melewati tangan.
7. lakukan proses yang sama dengan jari-jemari kaki
8. setelah dirasa cukup, semua siswa diminta untuk membuka mata perlahan-lahan dan menyadari bahwa tubuhnya masih terdapat di tempat yang menjadi latihan tadi, misalnya aula, tempat parkir, kelas, dll.
9. untuik mengekspresikan semua kepenatan yang ada dalam jiwa, dalam hitungan ketiga, semua siswa diminta untuk mengambil napas dan mengeluarkannya dengan teriakan “hah”.

Setelah melakukan teknik latihan di atas, semua siswa dminta untuk membacakan puisi di depan siswa yang lain. Beberapa catatan yang perlu diingat adalah
1. membaca puisi berbeda dengan membacakan puisi. Membacakan puisi dilakukan untuk orang lain. Jadi, makna yang terdapat dalam bentuk puisi disampaikan semaksimal mungkin agar isi puisi bisa “sampai” di penonton.
2. seseorang yang membacakan puisi harus benar-benar memahami makna yang terkandung dalam puisi tersebut atau dengan istilah menemukan nyawa puisi. Jika ada orang yang membacakan puisi tanpa memahami makna puisi tersebut, maka tidak ada bedanya dengan orang gila yang sedang kesumat.
3. penghayatan dan ekspresi harus total, namun emosi tetap terkontrol. Jika ekspresinya dilepas begitu saja, maka emosi tidak terkontrol dan proses pembacaan puisi akan terganggu karena pembaca puisi asyik dengan emosinya sendiri. Akibatnya isi puisi tidak sampai pada penonton.
4. intonasi dan artikulasi dalam membacakan puisi harus dilatih lebih intensif. Karena dua hal inilah yang menjadi faktor utama dalam mengantarkan kata-kata untuk menyampaikan makna dari penyair menuju ke penonton melalui transkata dari pembaca puisi
5. dalam membacakan puisi, dapat memakai metode ATM (Amati, Tiru, dan Modifikasi). Namun pada akhirnya nanti, setiap siswa harus memiliki karakteristik sendiri dalam membacakan puisi, atau lazim dikenal dengan istilah be your self.
6. rambu-rambu guru: 1) makna harus bisa ditemukan sendiri oleh pembaca. Kalau pun tidak memahami, guru sebaiknya jangan mendikte bahwa larik tertentu harus dibaca seperti ini. Biarkan siswa menemukan makna dan mengungkapnya sesuai dengan selera. Di Akhir, guru diperkenankan memberikan apresiasi terhadap ciri khas pembacaan puisi dari siswa, dan 2) diupayakan agar siswa dapat menemukan sendiri bait-bait mana yang merupakan konflik dan mungkin harus dibaca lebih tajam. Guru jangan mendikte cara membaca bait-bait tertentu. Hal ini berakibat bahwa siswa kadang kurang nyaman dalam membaca karena memenuhi selera (apresiasi guru)
7. semoga sukses

Kamis, 04 Desember 2008

VOCAL & KONSONAN

Ada dua puluh enam huruf yang kita kenal, dari semuanya terbagi menjadi 2 bagian, yaitu:
a. VOCAL, yang terdiri dari [ A – E – I – O – U ]
b. KONSONAN, selain dari hurup vocal diatas.

Huruf vocal disebut juga dengan “huruf hidup” dan konsonan disebut “huruf mati”. Sekarang saya akan menjelaskan dulu mengenai huruf vocal,, kembali ke SD lagi.

A. VOCAL (kita tidak menyebutnya lagi huruf) tapi vokal saja.

Didalam berkomunikasi (berbicara, bernyaanyi, dan membaca) vocal sangat penting peranannya karena:
- Dapat menghidupkan bunyi bagi konsonan lainnya.
- Dapat memberikan arti yang jelas bersama atau kepada konsonan.
- Digunakan menjadi dasar pengucapan bagi konsonan.
Misalnya: H dibaca ha
M dibaca em
K dibaca ka dst.

Kalimat vocal ini memiliki karakter, bunyi dan ciri masing masing baik dalam cara pengucapannya man perlakuannya.

1. Vokal [A]
- Dibunyikan dengan menjatuhkan rahang bawah sejauh mungkin, bukan dengan
membuka kesamping.
- Gigi atas dan bawah tidak dilindungi atau ditutupi oleh kedua bibir atas dan
bawah, bibir atas dan bawah harus kelihatan.
- Lidah diletakkan rata serta ujungnya menyentuh gigi bawah.
Setelah dibuat dalam posisi demikian bunyikanlah vocal [A] dengan santai.. (tapi jangan pake H yah.. Kasihan disekelilingnya Bau.. hehe)

2. Vokal [E]
Sama dengan posisi pada saat mengucapkan (A) tetapi dengan mengurangi
luasnya mulut sepertiga dari ucapan [A].
- Kedudukan gigi atas dan bawah tetap dijaga.
- Rongga mulut dan tenggorokan tetap dipertahankan seperti pada vocal [A].
- Awas, jangan sampai bibir tertarik kesamping karena akan mengakibatkan warna [E] yang sedikit gepeng.

Khusus untuk vocal [E] ada tiga karakter bunyi yang digunakan sesuai dengan
Kondisinya masing masing, bagi yang dari mEdan hilangkanlah kEbiasaan mEmbaca sEpErti itu. ( maap ye, becanda ) perbedaannya seperti ini:
- M e r d e k a : kedua [E} nya tidak sama tajam dan kedapnya.
- G e l a n g g a n g : vocal [E] sedikit lebih redup dibanding dengan dibanding
vocal [E] pada kata sempat.
Vocal [E] jika dirasakan dan diraba, getarannya akan terasa “dipelipis”.

3. Vokal [I]
Dengan tetap mempertahankan posisi rongga mulut dan tenggorokan pada saat mengucapkan vocal [A&E], pada saat mengucapkan vocal [I] dikurangi sepertiga atau dua pertiga dari [A] dengan sedikit mendorong sudut bibir kesebelah dalam.
Dengan bentuk mulut seperti corong, dapatkan pasisi [I] seperti pada kata kata: ini, kini, disini, tinggi, diri.
Hindari juga pengucapan [I] seperti pada kata tengik, nyindir dll.
Jika diraba dan dirasakan maka vocal [I] akan bergetar didepan mata.

Harus diperhatikan benar-benar, pada saat membunyikan [I] harus dibayangkan bahwa bunyinya melintas diantara kedua mata, kemudian seperti berbunyi di ubun-ubun.

4. Vokal [O]
Berawal dari bentuk vocal [A] tetapi merubah bentuk bibir menjadi lonjong
seperti corong, vocal [O] dapat dibunyikan dengan manis. Diupayakan sebulat atau
selonjang mungkin, sehingga akan terdengar bunyi vocal [O] seperti pada kata
toko, pohon, lorong.
Hindari vocal [O] seperti pada kata jengkol, tongkol, karena jika demikian
posisi mulut atau lidah akan berubah. Pada saat membunyikan vocal [O] kita akan merasakan bunyi dan getarannya di leher.

5. Vocal [U]
Seperti pada posisi pengucapan vocal [O], vocal [U] dibunyikan dengan memperhatikan :
- Mulut lebih dipersempit sedikit, dan bibir sedikit lebih didorong kedepan.
- Dapatkan vocal [U] yang sempurna, seperti pada kata busur, sungguh, dll,
dimana bunyi tidak didominasi bunyi [U] yang utuh melainkan terkesan lebih
boros dalam hal nafas.
- Hindari bunyi [U] yang menjurus ke [O] kecuali pada nada-nada rendah seperti ada BASS.
Jika dirasakan dan diraba, maka vocal [U]akan terasa bergetar diatas tengkuk.


B. KONSONAN

Konsonan lebih kita kenal dengan istilah huruf “mati”, yaitu seluruh huruf selain dari huruf vocal yang telah dibahas sebelumnya. Terdiri dari 21 huruf dan ditambah konsonan ganda, seperti: NG, KH, yang kalau digunakan “harus dibaca seperti satu huruf”.

Yang menjadi perhatian adalah:

MENGUCAPKAN HURUF KONSONAN PADA SAAT BICARA ATAU MEMBACA TIDAK SAMA PERSIS SEPERTI BERNYANYI. KARENA MEMBACA KALIMAT MUSIK, SELURUH HURUF KONSONAN MEMPUNYAI CIRI DAN KARAKTER MASING-MASING, YANG DIRASAKAN PADA SAAT MENGUCAPKANNYA MELALUI ALAT-ALAT ARTIKULASI.

Contohnya:
M kalau dibaca menjadi eM
K kalau dibaca manjadi Ka
S kalau dibaca menjadi eS dst.

Sedangkan dalam bahasa musik/vocal, yang lebih ditonjolkan adalah pergerakan atau aktivitas yang terjadi pada alat-alat bunyi didalam rongga mulut, ketika hurluf konsonan itu diucapkan.

Inilah informasi dari keseluruhan huruf konsonan, yang antara satu dengan lainnya. Memiliki karakter yang berbeda, meskipun perbedaan itu sangat kecil sekali, dan hampir tidak terasa pada pendengaran.

Tugas kita adalah menonjolkan karakter dari setiap konsonan dengan jelas, pada saat membaca kalimat lagu.

M : Bibir lemas dan santai, saling menyentuh dengan ringan, mulut sedikit
didorong kedepan, tapi tidak ada tekanan.

N : Lidah menyentuh pangkal gigi atas dengan ringan, bibir atas dan sisi rongga bibir atas dan sisi rongga hidung sedikit diangkat, rongga mulut agak dibesarkan.

R : Ujung lidah digetarkan hingga menyentik pangkal gigi atas dan sedikit gigi bawah.

NG : Ujung lidah ditempatkan dibelakang dan diatas gigi atas bagian depan, pojok (bagian belakang dari lidah) diangkat dan bergerak sejauh mungkin. lakukan NG seperti mengucapkan (singing- sangsung).

Catan : Konsonan M, N, & NG, disebut juga dengan bunyi nasal dan juga
bunyi / huruf yang bernyanyi.


L : Lidah melengkung tepat dibagian belakang gigi atas, tidak melebar dan
mengendur tetapi tangkas dan menipis lembut agar udara dapat melintas dari sisi-sisinya.

V : Gigi atas menyentuh sedikit bibir bawah dan bibir atas sedikit dinaikkan.

F : Gigi atas lebih ditekankan pada bibir bawah.

J : Gigi saling berdekatan, bibir agak direntangkan, lidah rileks dan ujungnya hampir menyentuh gusi gigi atas.

Z : Sama seperti membunyikan [S] namun sedikit lebih berat.

Y : Dimulai dengan formasi [I] dan bongkokkan lidah, seolah hanya memberi sedikit ruang pada mulut bagian atas.

C : Bagian sisi lidah ditempatkan tegas menyentuh bagian samping gigi atas, ujung lidah menyentuh pusat gusi atas.

H : Langit-langit bagian yang lunak sejenak memperkuat hembusan nafas ke sasaran yang dituju.

SY : Ujung lidah bekerja terbalik tetapi cenderung naik kemulut, gigi atas menutup tanpa menyentuh gigi bawah, dan bibir bawah bergerak ke atas.


KONSONAN LEDAK.

Disebut konsonan ledak, karena pada saat membunyikannya seakan akan
diiringi oleh ledakan kecil.

P,B : Ujung bibir diledakkan melalui tekanan udara yang dibentuk, [B] dicapai dengan getaran ringan dari pita suara.

T : Ujung lidah ditempatkan (bukan diletakkan) menyentuh gusi tepat diatas gigi. Begitu lidah memetik dan lepas dari posisi, ledakan kecil dari udara dihembuskan.

D : Ujung lidah secara ringan menyantuh gusi atas, jentikannya diawali oleh
desakan udara, lidah melepas diri dari tekanan.

K : Posisi punggung lidah bagian belakang menempel pada langit-langit bagian belakang, mendapat desakan udara dan melepaskan diri.

G : Posisi lidah sama dengan membunyikan [K] tetapi desakan udara
mengeluarkan bunyi.

lalukan ini tiap pagi setelah bangun tidur minimal 7 kali tapi jangan lupa minum dulu biar gak lepas tenggorokannya wkkkkkkkk

selamat mencoba, sukses kawan !!!!!

Tips Olah Vocal

Banyak kan diantara teman2 yang ingin belajar olah vocal ato kepingin bisa nyanyi..? Nah, disini saya ada sedikit tips yang saya dapet dari orang2 yang berpengalaman dibidang vocal.

untuk memulai latihan vokal yang baik itu ada beberapa hal yang harus diperhatikan;

1. Relax.
Seluruh badan mulai dari kepala sampai ujung kaki harus diberi latihan supaya santai.
Misal:
ambil napas pelan-pelan, lalu hembuskan. Diulang terus dengan teratur.
Bisa juga pada saat menghembuskan badan kamu bungkukkan badan (kayak posisi rukuk waktu sholat, tapi kepala nggak lihat ke depan, tapi ke bawah (bahkan agak ngeliat ke belakang lewat kolong kedua kaki), juntaikan tangan ke bawah. Digoyangkan biar relax. (posisi kedua telapak kaki lurus ke depan dengan jarak sejengkal di antara keduanya.
Lalu perlahan-lahan naik, angkat badan kamu, tapi tumpu kekuatan lewat punggung. Jadi kamu akan ngerasa kalau tulang belakang kamu itu perlahan-lahan naik ke atas ngikutin badanmu yang ikut tegak. Selama proses itu kamu bernapas dengan teratur. (Kalau ada temanmu, dia bisa memijat punggung sembari badanmu naik menuju posisi tegak.

Itu sangat membantu proses relaksasi.

2. Latih bagian rahang dengan huruf-huruf vokal dan konsonan. Ingat, rahang harus relaks.

A I U E O

latihan diafraghma:

huruf K-Ch-K-ch-sssst-th. dengan tempo cepat.
ho-ho-ho...ha-ha-ha

Lalu latihan wilayah nasal (hidung):
"nya-nya-nya" dengan benar-benar menekankan suara cempreng dari hidung.

Lalu latihan bibir
nyanyikan tangga nada dengan bibir terkatup jadi bunyinya bakal
"brrrrr-brrrr-brrr-brrr"
nyanyikan tangga nada, arpeggio, secara staccato (patah) maupun legato.

Latihan lidah
"La-la-la. ra ra ra, tatata."

(biar ga bosen bisa sekalian latih semuanya pakai tangga nada, arpeggio.)

3. Setelah sudah relaks, kamu baru boleh nyanyi.
Ketika nyanyi, harus konsentrasi dengan target nada. Napas harus teratur dan kontrol power dengan baik.